Gue kesel banget sama hal-hal yang berbau parkir-memarkir. Terlalu banyak kejadian pahit yang gue alami.

Pertama-tama, gue akan menyampaikan kekesalan gue terhadap TUKANG PARKIR di kota Banjarmasin. (Sengaja gue bikin capslock biar TUKANG PARKIRnya ngebaca) Semakin banyak warung makan atau toko-toko lain bermunculan, entah dari mana asalnya tukang parkir juga sama ikut bermunculan. Kita ambil contoh aja: warteg. Gue punya warteg langganan tempat gue makan. Disana makanannya enak abis. Bawaannya pengin nambah mulu. Karena saking enaknya, pengunjung jadi banyak yang datang. Tentu saja, dimana banyak orang yang memarkir motor atau mobil, disana pula ada mas-mas ngeselin menggunakan rompi biru nongol, Si Tukang Parkir.

Di kota gue, tipe TUKANG PARKIR ada 2:

1. TUKANG PARKIR SIALAN

TUKANG PARKIR SIALAN ini tersebar luas dimanapun kita berada. Ciri-ciri: bertampang susah namun baik hati, sedikit membuat kesal dan memakai rompi biru.

Gue masih ingat kejadian sewaktu gue lagi makan siang di rumah makan bernama “AFC”. Di rumah makan tersebut tempat parkirnya berdekatan dengan tempat makan yang hanya dibatasi oleh kaca. Dari dalam rumah makan, gue bisa mengamati motor gue di parkiran karena kaca tersebut tembus pandang. Pertanyaannya adalah: kenapa disana ada tukang parkir? Gue sendiri sebenernya sudah bisa menjaga motor gue sendiri dari dalam. Seandainya memang ada maling yang nekad mencuri motor, gue tinggal melemparkan garpu ke pantatnya. Atau berteriak “MALING” karena kebetulan di seberang rumah makan ada kantor polisi.

Tukang parkir sialan ini orangnya mood-mood-an. Dia rajin kalau dia sedang ingin rajin atau punya pacar baru. Kalau sedang ingin malas kerajaannya cuman duduk santai lalu meminta duit parkir. Mengesalkan!

2. TUKANG PARKIR KURANG AJAR!

Pengertian tukang parkir kurang ajar! adalah tukang parkir yang rasanya ingin sekali ditimpuk pakai balsam geliga di mukanya. Ciri-ciri: berkepribadian buruk dan memakai rompi biru yang bau.

Contoh tukang parkir yang kurang ajar yaitu waktu gue lagi jalan-jalan sore mencari tempat makan tahu tek-tek. Gue menuju tempat di Banjarmasin yang sangat fenomenal yaitu Pantai Jodoh. Gue sama sekali enggak berniat untuk mencari jodoh. Gue hanya ingin memenuhi kebutuhan perut. Kebetulan waktu itu lagi liburan, jadi banyak anak-anak alay yang main kesana sekadar untuk duduk-duduk, berolahraga atau berpacaran. Gue sendiri juga bingung kenapa berpacaran di tempat seperti ini. Pantai jodoh berlokasi di samping sungai, memiliki pohon beringin yang kayaknya sudah berumur ratusan tahun dan tempatnya yang sedikit jorok. Niatnya mau romantis-romantisan malah jadi horor-hororan.

Setelah gue tiba di Pantai Jodoh, gue menepikan motor di tempat parkir, tepat di samping mas-mas berbaju kaos hitam yang sedang berdiri. Kondisi saat itu gue masih duduk di atas motor dan melihat ke sekeliling Pantai Jodoh mencari dimana tahu tek-tek berada. Ternyata orang yang berjualan tahu tek-tek pindah ke seberang Pantai Jodoh yang berjarak lumayan jauh dari tempat gue. Lalu gue menarik mundur motor untuk keluar. Dan mas-mas berbaju kaos hitam yang dari tadi berada di samping gue tiba-tiba bilang, ”Parkirnya mas.”

Awalnya gue pikir disini gak ada tukang parkirnya. Eh malah ternyata si mas berbaju kaos hitam itulah tukang parkirnya.

PARKIR PALA LO PITAK! Gue cuman sebentar disini, gak nyampe 40 detik dan gue ada di atas motor dari tadi. Kenapa harus bayar ongkos?! Gue emosi sekali. Gue lagi gak mau cari masalah akhirnya gue kasih uang seribu perak. And-do-you-know-what-the-kampret-is-? Ongkos parkirnya dua ribu perak. Omaigat, anda kurang ajar sekali mas parkir. Benar-benar tidak tahu diri.

Gue menyadari, cari kerjaan zaman sekarang memang susah. Satu-satunya pekerjaan yang hampir sama seperti mengemis ya tukang parkir. Kalau tukang parkir legal gue setuju aja, tapi kalau sama tukang-tukang parkir yang ada di pinggir jalan itu biasanya illegal, gue sama sekali gak setuju.

Memang ada tukang parkir yang waras, yang bekerja sesuai dengan tugas. Tapi ada aja tukang parkir yang cuman duduk-duduk kerjaannya, gak tahu kalau ada maling motor, tiba-tiba yang motornya dicuri menjerit-jerit, “Motorr saya hilaaaaang!!!” Bukannya ngejar si maling, warga malah memukuli Si Rompi Biru.

***

Dulu, sewaktu berlibur di Surabaya gue pernah dikira tukang parkir.

Gue waktu itu pergi ke salah satu supermarket (lupa nama supermarketnya, berawalan huruf ‘K’ dan sepertinya bahasa Jepang. Kataka? Kawaka? Atau Kasaka? Ah, sudahlah) Setelah mendapatkan apa yang dicari, gue dan sepupu pulang. Sepupu gue mengambil motor dan gue menunggu sambil berdiri memegang karcis. Ternyata, ada seorang ibu-ibu datang menghampiri gue.

“Ini dek” Kata ibu tersebut sambil memberikan karcis dan uang lima ratus perak. Dia mengira gue adalah tukang parkir. Gue buru-buru menjelaskan kalau gue bukan tukang parkir. Kemudian dia minta maaf sambil malu-malu. Hal yang membuat gue terlihat seperti tukang parkir yaitu, gue belum mandi dan muka gue memang pas jadi tukang parkir junior.

Dari dikirain tukang parkir, akhirnya gue mendapat kesempatan menjadi tukang parkir selama beberapa minggu. Orang-orang yang melihat gue pasti berpikir kalau gue adalah pelajar depresi karena tidak naik kelas lalu memutuskan untuk jadi tukang parkir sekolah.

Sebenernya gue menjadi anggota seksi keamanan di sebuah acara yang diadakan oleh OSIS sekolah gue. Berhubung anggota seksi keamanan adalah tugasnya mengamankan, alhasil koordinator seksi keamaan memerintahkan untuk mengamankan parkiran. Selain itu, gue juga harus merapikan posisi-posisi motor karena kalau enggak parkiran akan penuh, kebetulan parkiran sekolah gue gak terlalu besar untuk menampung orang-orang yang hadir.

Ternyata, menjadi tukang parkir itu tidak semudah yang gue bayangkan. Duduk, mengamati motor-motor dari jauh, lalu minta duit. Duduk, mengamati dari jauh, lalu minta duit. Seperti itu terus sampai gue jadi kaya dan bisa membeli iPad 11 biji.

Menjadi tukang parkir harus memiliki fisik dan mental yang kuat. Fisik yang kuat digunakan saat memindahkan motor. Gue pernah menjatuhkan motor CBR 150 cc karena fisik gue yang terlalu letoy. Untung aja gak ketahuan sama pemiliknya. Mental yang kuat digunakan saat menagih ongkos parkir sama orang berwajah seram. Bermental kuat akan membuat kita pede dan selamat dari marabahaya dalam menagih ongkos parkir kepada orang yang berwajah seram, seperti Genderuwo misalnya. Kalau bermental kayak tempe, salah-salah ngomong bisa babak belur nantinya atau paling parah dijadikan tumbal di malam Jumat sama Genderuwo.

Well, jadi tukang parkir itu enak enak sambal Sasa.

***

Terakhir, gue paling kesal dengan parkiran mall di kota gue. (Ya kalian pasti tau mall yang gue maksud) Di parkiran mall ini enggak ada tukang parkir yang ngeselin karena mereka terlalu cuek, sangat jarang membantu gue kalau ada masalah di parkiran. Jadi, kali ini tidak ada masalah dengan mereka. Tapi masalah sebenarnya adalah di setiap hari sabtu-minggu, parkirannya selalu penuh dan antriannya panjang banget.

Masalah ini benar-benar menyita waktu. Kemarin sabtu, gue baru aja pulang dari mall sekitar pukul 5 sore. Gue teringat dengan adegan-adegan di film Hollywood. Salah satu adegannya adalah saat pemeran utama membuka pintu lalu terlihat jelas ada gelombang tsunami datang dari luar, misalnya. Suasana jadi chaos. Kurang lebih gue seperti itu juga. Gue bersama Madan menuju pintu keluar. Saat gue buka pintu keluar mall, gue melihat gerombolan manusia beserta motor-motornya berkumpul, mengantre parkiran untuk keluar. Suasana menjadi chaos. Gue dan Madan saling menjambak rambut karena terlalu frustasi. Kami malah jambak-jambakan.

Saat itu kami memutuskan untuk menunggu sampai antrian terlihat membaik. Tapi, mau sampai kapan? Sudah setengah jam lebih gue dan Madan menunggu di teras mall, antrian masih saja panjang. Daripada pulang kesorean, akhirnya gue iku bertempur melawan gelombang manusia.

Banyak faktor yang menyebabkan masalah itu timbul. Pertama, mall di kota ini hanya satu. Kalau mau cari hiburan selain disini agak sulit karena saingan mall, yaitu Pasar Tungging, bukanya cuman malam. Kedua, antusias penduduk kota Banjarmasin begitu menggebu-gebu ingin bersenang-senang di mall. Ketiga, parkiran yang menurut gue kurang cukup untuk menampung seluruh masyarakat Banjarmasin. Jadi, gue paling sering kebagian tempat parkir di outdoor. Sehingga kalau ada hujan, helm gue jadi basah dan mengeluarkan bau busuk seperti bangkai tikus 3 tahun yang lalu.

***

Sekian curhatan dari gue. Mohon maaf kalau postingannya panjang banget, soalnya gue emosi banget pas lagi nulis.

Salam Rompi Biru (atau Rompi Oranye)