Di tengah-tengah kesibukan mengerjakan tugas dan mempersiapkan diri untuk Try Out pertama, gue mencoba sedikit meluangkan waktu untuk ngepost. Sangat berat. Namun demi terhindarnya nama baik dari jabatan “blogger murtad” gue tetep mencoba.
Postingan ini ditulis kemarin, saat gue lagi ngerjain presentasi sejarah yang telah ditampilkan pagi tadi. Niatnya mau malem Kamis kemarin ngepostnya. Berhubung jaringan internet rumah lagi bermasalah jadi tertunda, deh.
Oke, stop dulu curhatnya. Lanjuut!
Kali ini yang gue bahas nggak jauh-jauh dari sekolahan. Langsung aja ya? Berikut adalah faktor-faktor penyebab kegalauan siswa kelas 3 SMA:
1. TUGAS YANG SEPERTINYA BANYAK BANGET
Gue merasa di semester 6 ini kok tugas makin numpuk? Perasaan semester-semester sebelomnya gak gini-gini banget. Bukan cuma tugas sekolah yang kayak jemuran, gue juga memikul beban sebagai penanggung jawab kelas dalam mengurus buku tahunan. Yah, derita menjadi ketua kelas. Gue cukup tersiksa ikhlas mengikuti rapat buku tahunan, mengetikkan biodata-biodata temen dan keperluan lain-lain, padahal gue masih ada tugas yang harus diselesaikan. Fiuh.. *curhat again*
2. FULL-DAY BELAJAR
Bahkan lebih dari full-day menurut gue. Kalo full-day biasanya cuman sampe sore, kalo gue sampe malem. Bedeehh.. rempong bok! Pergi sekolah jam 7 pagi, pulang jam 4 sore. Istirahat bentar, lalu malem lanjut les dari jam 7 sampe jam 9. Ketika gue nyampe rumah, badan sudah terbagi jadi 5 bagian. Kepala, tangan kiri, tangan kanan, kaki kiri dan kaki kanan. Semuanya misah.
Gue teringat saat di jaman SMP. Dulu, ada yang namanya jam ‘0’ (Nol). Jam belajar tambahan yang dimulai pada pukul setengah 7 pagi. SETENGAH 7 PAGI. Jujur aja, jam segitu gigi gue belum dibersihkan dari jigong-jigong yang ada.
3. SEBENTAR LAGI UN BROOOO..
Kalau dianalogikan, UN itu seperti garis finish sedangkan sekolah itu adalah rute gerak jalan. Apa yang dirasakan oleh seorang peserta gerak jalan sepanjang 50 KM juga dirasakan oleh kita, siswa kelas 3 SMA. Gugup, salah satunya. Semakin dekat dengan akhir sekolah untuk memulai sesuatu yang baru di perkuliahan atau pekerjaan. Semakin dekat finish untuk menjalani tantangan yang lebih berat. Misalnya yang tadi gerak jalan 50 KM, selanjutnya adalah 70 KM. Mampus mampus, deh.
4. LONG DISTANCE SAMA PASANGAN
Oke. Nampaknya gue ketuker. Ini memang membuat orang galau tapi gak semua siswa kelas 3 SMA galau karena ini. Sudahlah.. Gak penting ngebahas gituan. -_____-
Saran gue atau wejangan dari gue, untuk mengatasi kegalauan kita, para siswa-siswa 3 SMA se-Indonesia, yaitu tanamkan niat untuk benar-benar ikhlas mencari ilmu. Simple aja. Karena kehidupan itu mudah, men. Jangan dibikin susah tapi jangan juga dimudah-mudahin.
Menanamkan niat memang gak semudah menanam pohon rambutan. Ini memerlukan kesadaran akan pentingnya ilmu. Sadar kalau kita perlu ilmu.
Sekolah selama 12 tahun, dari SD sampai SMA, untuk apa? Lulus beserta ijazah? Jelas bukan! Tapi untuk mendapatkan ilmu, bener kan? Percuma aja lulus tapi masih nggak ngerti apa itu obligasi, pertidaksamaan kuadrat atau pencitraan dalam geografi (dan lain-lain).
Dan sekarang yang terpenting adalah masa depan. Tentukan masa depan kalian, gue, kita semua. Karena, masa depan itu ada di tangan kita, men.
Ngomong-ngomong ini postingan ke 100 gue loooh! *motong tumpeng* Sesuatu!
Dan kalau dipikir-pikir, judulnya panjang banget ya.





