Hai pembaca setia blog gue.. Gimana kabarnya? Semoga baik selalu. *model penyiar radio*
Oke, mood gue lagi pengin bikin long post nih. Tapi sebelum kita masuk ke pokok permasalahan, izinkan gue membawakan sebuah pengantar..
Sekarang gue lagi nulis dalam keadaan suram, suram banget. Tepat saat gue membuka laptop, rumah gue tiba-tiba listriknya mati dan di luar juga tiba-tiba hujan deras. Gelap dan dingin. And you know what.. suasana-suasana kayak gini enaknya buat ngegalau tidur.
Pas mau tidur, gue jadi inget, kan gue mau bikin postingan? Akhirnya gue gak jadi tidur.
***
Ngomong-ngomong tidur, gue akhir-akhir ini sering banget masuk angin. Emang sengaja gue bikin gak nyambung. Pada awalnya masuk angin ini bukan hal yang serius dan nggak perlu perhatian lebih. Karena dengan sekali ‘brooot’, selesai perkara.
Nah, masalahnya adalah masuk angin gue kali ini sudah keseringan. Stadium 3, mungkin. Mengatasinya bukan hanya dengan sekali ‘brooot’, tapi tiga kali ‘brooot’ bahkan sampai ‘BROOOOTTTHHDUUUAAARRR’. Pantat gue sobek. Eek berceceran di mana-mana.
Setelah diselidiki bersama agen ‘SERGAP’ (kebetulan Bang Napi gak bisa ikut karena lagi pengajian) penyebab utamanya adalah perut gue yang kosong. Yap. Perut gue belum diisi alias belum makan. Karena perut yang kosong itulah yang membuat rongga kosong sehingga menyebabkan angin dari luar bersirkulasi untuk masuk ke rongga diafragma, dan terjadilah masuk angin. Ngomong apa sih gue?
Ditambah lagi dengan jam les gue yang dominan malam, dari pukul 7 sampai 9. Biasanya, gue makan malam pukul 7.30. Jadi, waktu gue pergi les keadaan perut masih kosong. Dalam perjalanan malam yang dingin dan ‘jahat’, membuat angin masuk ke perut gue dengan seenaknya.
Gue sering banget tersiksa di jam-jam les gue. Di tengah-tengah pelajaran, di saat tentornya lagi menjelaskan, gue tiba-tiba masuk angin. Mengerang-erang kesakitan. “Aduuuhh..”, sambil memegangi perut. Gue bener-bener tersiksa. Kalian yang pernah merasakannya pasti mengerti. Untung di saat itu nggak ada temen gue yang rese, “PMS ya? Minum saja kiranti!” sambil memasang wajah sales.
Di saat seperti itu, gak mungkin kan gue melakukan hal yang tidak senonoh seperti, kentut? Itu konyolisme banget.
Gue termenung. Gue berpikir apa yang harus gue lakukan ketika siksaan ini muncul. “Gak! Gue gak bakal mempermalukan diri gue sendiri! GUE GAK MUNGKIN KENTUT DI DEPAN ORANG BANYAK!”, teriak dalam hati. Gue dilema.
Sampai pada akhirnya, gue bertemu dengan seorang tukang pijat professional, elastis dan dinamis. Waktu itu gue lagi dipijat sama dia sambil ngobrol-ngobrol sedikit. Dia sempet bilang, “Haha.. Tahan sakitnya. Ini biar sirkulasi darahnya lancar. Kalau nggak, bisa bikin badan pegel-pegel.”
Sesaat setelah kami berhenti ngobrol, gue berpikir kalau dia dulu pas SMA ngambil jurusan IPA. Masalahnya, apa yang dia omongin pasti nyangkut-nyangkut sama pelajaran IPA.
“Nah, ini nih kamu merinding! Itu berarti anginnya keluar dari pori-pori”, jelasnya.
Hey, gue baru tau kalau merinding itu adalah proses keluarnya angin melalui pori-pori kulit. Luar biasa tukang pijat ini. Gue salut.
“Angin itu biasanya keluar dari mulut, kentut atau pori-pori”, lanjutnya.
Yeah! Gue telah menemukan apa yang gue cari selama ini. *suasana menjadi dramatis*
***
Malam itu terlihat wajar seperti biasanya. Gue pun masih berbentuk manusia laki-laki. Gue pergi les dengan biasa-biasa saja. Dan seperti biasa pula, gue masuk angin. Lagi-lagi, gue tersiksa dengan keadaan pengen kentut di dalam kelas. Menyiksa.
Lalu gue mencoba tiga cara ampuh membasmi angin di dalam perut. Pertama, gue melakukan sendawa. Gue mencoba segala cara biar bisa sendawa. Mulai dari memaksa bersendawa sampai meminum soda satu kaleng. Hasilnya, nihil.
Kedua, kentut. Gue gak mau dihina oleh teman-teman gue karena kentut di dalam kelas. Akhirnya, gue minta izin keluar lalu berkentut sepuas-puasnya di koridor kelas. Tapi tetep mengatur volume suaranya, gue takut ganggu kelas lain. Dengan sedikit keterpaksaan dan kepedihan yang mendalam di bagian pantat, angin pun keluar. Gue kembali lagi ke kelas. Sekitar 5 menit kemudiam, angin masuk lagi. Sial!
Terakhir, mengeluarkan angin dari pori-pori. Gue sedikit kesusahan di tahap terakhir ini. Gue mencoba mencari cara biar bisa bulu roma gue ini berdiri alias merinding. Gue melihat ke sekitar kelas, menatapi wajah-wajah temen gue satu-persatu. Kali aja ada yang mirip genderuwo, lumayan bisa bikin gue merinding. Tahap ini pun gagal karena gue gak bisa merinding.
Sepanjang perjalanan pulang, gue puas-puasin kentut. Gue balas dendam karena menahan kentut selama 2 jam. Itu pedih, bro! Setibanya di rumah gue melaksanakan shalat isya dengan keadaan perut masih berisi angin. Di tengah-tengah shalat tepatnya pas sujud, perut gue jadi aneh. Perut gue seakan-akan terbuka lalu memberikan ‘jalur’ untuk angin menuju ke pantat. Di saat itu juga, angin rasanya berada diujung pantat. Gue pengin banget kentut tapi takut batal. Akhirnya gue tahan sampai selesai shalat.
Setelah selesai shalat, gue mencoba melakukan hal yang sama yaitu meniru gerakan sujud. Pantat gue angkat sedikit dari biasanya. Entah mejik entah ajaib, ‘jalur’ itu terbuka lagi dan seakan-akan mengantarkan angin ke ujung pantat. Gue ngerasa waktunya tepat di mana angin berada di ujung pantat. Gue ngeden. Ngeden sekuat-kuatnya. ‘BROOOOOOTTTHHHRRR…’ Gue heran sekaligus kesenengan. Kok bisa, sih? Gue coba lagi, kali ini bunyinya lebih lemah. ‘BROOTHHssss’ , mungkin karena sudah hampir habis.
Gue berdiri lalu tersenyum senang. “Akhirnya, gue bisa! Akhirnya gue temukan!”, kata gue dalam hati.
***
Sekilas, cerita gue di atas mirip sama ceritanya Radith di bukunya Manusia Setengah Salmon. Tapi bener, ini real cerita gue.
Gue dengan ikhlas berbagai pengalaman dan tips. Gue yakin di dunia ini banyak orang yang mengalami hal seperti gue. Gue ingin berbagi, biar nggak ada lagi yang tersiksa di dalam kelas ketika pengin banget kentut. Gue tau perasaan lo, wahai pengentut!
Selain itu juga, gue punya tips lain yaitu minum energen jahe. Beh, selain enak, anget juga bikin kenyang.
Mungkin ada tambahan dari kalian bisa ditulis di komentar.. J





