Belum apa apa udah disambut sama judul yang ‘dalem abis’. Hehehe..

Sekitar seminggu yang lalu, alhamdulillah, gue diberikan kesempatan untuk memasuki usia yang ke 17 tahun. Yap, ini nih faktor kelamaan kagak ngepost. Banyak sudah yang gue lalui di dunia ini selama 17 tahun.

Flashback! Gue mencoba mengajak kalian untuk kembali ke tahun 2000an, di mana saat itu gue masih SD, bawa botol minum yang digantung di leher, iler netes ke mana-mana dan rambut yang klimis abis. Jujur, waktu SD itu gue pecundang banget. Bahkan, lebih cundang daripada pecundang (ya ngertilah maksudnya gimana). Salah satu contoh yang membuktikan kalau gue pecundang itu kalau temen-temen udah mulai ngebahas tentang bola. Pas olahraga, biasanya temen-temen gue yang cowok asyik main bola. Sedangkan gue dengan tidak asyik duduk di pinggir lapangan, menunggu temen yang minta ganti. Dan naasnya, sampai permainan bola itu berakhir kagak ada satu pun temen yang minta ganti. Akhirnya, jadilah gue camat (cadangan mati).

Kepecundangan gue juga terlihat di dalam permainan lompat tali. Normalnya, permainan lompat tali dimainkan oleh cewek. Betul? Yap. Nah, anehnya semua temen-temen cowok di sekolah gue itu bisa main lompat tali dan cuman gue yang nggak. Pernah suatu kejadian semua temen gue main lompat tali. Gue bingung, mau main apaan? Mana nggak ada temen pula. Gue pun berakhir di anak tangga perpustakaan, di sana gue duduk sambil meratapi kepecundangan ini.

Enam tahun bersekolah dasar, gue masih pecundang.

Sampai gue memasuki tahap selanjutnya di SMP. Pada saat SMP, kehidupan gue sangat jauh berbeda dengan kehidupan di SD. Yang biasanya gue dipecundangi, di SMP gue sangat dihargai, bahkan mungkin lebih dari itu. Ibaratnya, di kelas 1F (waktu masih kelas 1) itu leadernya ya gue. Mantep abis dah. Kalo ke kantin, gue yang paling depan, semua temen gue pada ngikut di belakang. Terus, gue jadi rebutan kakak kelas cewek. Ini serius loh! Tapi buka aib sendiri nih namanya. -,-

Pernah ada kejadian gue hampir digebukin sama ‘kakak-kelas-yang-katanya-paling-jago’ di sekolah. Hari itu hari senin di lapangan, pada saat bersiap mau mulai upacara bendera. Gue lagi ngobrol sama temen, ketawi ketiwi hihihi. Tiba-tiba, “Jdaaar!” Nah loh? Apaan tuh? Ternyata, ada orang yang nampar kepala gue dari belakang.

“An****! Siapa yang nampar gue?!”, gue emosi. Gue kira yang nampar itu temen gue yang suka iseng. Tapi bukan. Pas gue balik badan, gue tengok wajah sang penampar itu. Di saat itulah rasanya gue pengin malaikat Israfil meniupkan sangkakala, membumihanguskan seluruh jagat raya, gunung-gunung bertabrakan, langit runtuh… Stop! Oke, lanjut. Sekali lagi gue lihat wajah itu dengan seksama. Ternyata, dia adalah ‘kakak-kelas-yang-katanya-paling-jago’ di sekolah. Mampus dah. Panik. Awalnya gue pengin ngegampar balik, tapi pas gue liat mukanya malah nggak jadi, takut pulang-pulang dimutilasi. Jadi gue diam, salting, keringetan. Kurang lebih kayak first date sama pasangan gitu. Gue buru-buru balik badan lagi, pura-pura nggak terjadi apa apa. Padahal, tadi baru digampar sama orang. Sapi!

Di SMP, walaupun temen-temen gue sudah menghargai gue secara berlebihan tapi masih ada aja orang yang mempecundangi gue.

Setelah kejadian itu, gue nggak berani lagi sok-sok kecakepan di depan kakak kelas, sok-sok jadi leader, sok-sok paling keren. Ampun dah, ampun. Semakin hari, gue semakin menjadi anak yang cupu. Kerjanya diem di kelas, makanin kertas di lantai. Lebay!

Di SD, SMP, gue masih jadi pecundang. Baiklah, di SMA gue harus berubah.

Sama dengan sebelum-sebelumnya, gue di SMA nggak bisa ngapa-ngapain. Gue malah bingung, apa yang harus gue lakukan biar status ‘pecundang’ ini bisa gue lepas?

Karena dengan kebingungan itulah gue mendapatkan hasilnya. Dan akhirnya malah unik. Di SMA, tepat di umur gue yang ke 17 ini, gue nggak mencoba untuk menjadi yang paling baik, nggak mencoba melepaskan status ‘pecundang’. Ternyata bukan itu loh yang gue cari selama ini. Bukan kepecundangan yang harus lekas-lekas dibuang, bukan. Bukan jadi leader, bukan jadi yang utama. Tetapi yang harus kita cari itu posisi terbaik di tengah-tengah lingkungan.

Pernah nggak sih kalian merasa terkucilkan di suatu kerumunan atau perkumpulan? Di sana kalian merasa diri kalian yang paling buruk, hina, rendah, dan lain-lain di antara yang lain. Itu adalah posisi yang salah. Posisi terburuk yang harus kita jauhi.

Dan pernahkah kalian merasa nyaman, senang, bahagia ketika berkumpul dengan suatu kerumunan orang yang lain? Saling melengkapi, bukan menjadi yang paling baik. Ketika kalian merasa kurang, ada seseorang yang mengisi kekurangan tersebut. Nah, itulah posisi kita. Posisi terbaik kita. Di sanalah kita bisa mengembangkan potensi di dalam diri kita.

Sekarang, gue lagi menikmati posisi terbaik gue. Sangat nyaman, berada di dalam keluarga harmonis, punya temen yang mantep abis dan semuanya lah yang fantastis-fantastis. Hahaha.

Sekian postingan gue. Sorry agak panjang nih, gue lumayan lama nggak nulis. Tulisan kali ini sangat sangat gue nikmati. Enjoy. Maaf ya kalo nggak sejalan dengan pemikiran kalian. Sekadar berbagi pemikiran aja. Thanks for reading :)